Kekuatan Air Mata

Published on 12 January 2018

Ucapan Yesus dalam Kotbah Di Bukit ini memang terasa paradoks,

"Berbahagialah kamu yang berdukacita karena kamu akan dihibur." Mereka yang berbahagia adalah mereka yang mampu meratapi kesedihannya dan menerima kenyataan hidup dengan lapang dada.

Sesungguhnya air mata adalah harta yang sangat berharga. Tuhan menciptakan air mata agar manusia bisa menyatakan rasa haru karena berbahagia maupun mengungkap rasa dukacita sepanjang hidupnya.

Sayangnya masih ada orang tua melarang anaknya menangis karena menganggap itu cengeng. Padahal menangis itu justru sehat jika ada alasan yang tepat.

Salah satu mahasiswa kami bercerita, sebut saja namanya Corry. Katanya, "Pak Julianto, selama lima bulan terakhir ini mata saya perih kalau kena angin atau air. Mau memejamkan mata saja sulitnya minta ampun. Rasanya mata belum tutup. Saya harus membujuk dulu mata ini sambil berdoa, baru terasa agak enak. Namun ketika ingin membuka mata, juga sulit dan perih, sampai saya berpikir jangan-jangan mataku buta.

Karena kondisi matanya, Corry memutuskan pergi ke dokter mata di sebuah rumah sakit di daerah Jakarta Selatan. Hasil pemeriksaan menunjukkan ternyata ada luka di matanya. Selaput mata Corry kering. Dokter menyarankan Corry menangis setiap hari. Itu saja obatnya.

"Waduh, dokter saya paling sulit menangis," kata Corry pada dokternya.
Dokter bertanya, "Mengapa nggakbisa? Apa kamu nggak pernah sedih?"

Corry menjawab, "Ya, saya sering sedih, tapi jarang bisa menangis karena ayah saya melarang keras kami menangis."

Akhirnya dokter memberikan obat mata yang diteteskan setiap jam. Habis diberi obat, mata perlu dipejamkan selama 5 menit agar selaputnya menjadi basah. "Sampai kapan, dok?" tanya Corry.
Dokter menjawab enteng, "Ya, selama hidup."

Saat mengikuti kuliah konseling, Corry mulai sadar bahwa selama ini dia tidak bisa menangis karena di masa kecil ayahnya melarang keras anak-anak menangis. Kalau ayahnya  mendengarkan anak-anak menangis, pasti dihajar pakai ikat pinggang. "Kini
 saya merasa tak perlu menyesali, itu masa lalu. Saya belajar memaafkan dan menerimanya sebagai pengalaman, dan percaya Tuhan sanggup memulihkan," kata Corry.

****

Dari kisah Corry di atas, kita melihat dampak buruk dari "kurang menangis". Sesungguhnya menangis itu sehat dan perlu. Secara psikologis ini menjadi cara yang baik mengungkapkan kesedihan.

Tuhan menciptakan air mata untuk digunakan seperlunya pada situasi tertentu, terutama saat berduka dan kehilangan. Menangis baik sebagai sarana katarsis bagi mereka yang punya masa lalu traumatis. Kadangkala ada orangtua yang tidak tega mendengar anaknya menangis. Mereka tidak mau repot dan akhirnya memberikan apa saja yang diinginkan anak, akhirnya menjadi manja.

18 tahun lalu saya praktek konseling di sebuah pusat rehabilitasi di Jakarta. Pasien di sana rata-rata pecandu dan penderita depresi. Usia mereka antara 17-30 tahun. Seorang konselornya bercerita, ditemukan, mayoritas klien dimanjakan ketika kanak-kanak. Saat kecilnya mereka relatif kurang menangis. Akibatnya, di masa remaja anak-anak ini tidak tahan stres dan daya juang mereka rata-rata rendah.

Menggali Masa Lalu

Sebagai terapis masalah kesehatan mental saya menemukan banyak klien mengalami depresi karena terbiasa menyimpan emosi negatif di masa lalu. Emosi negatif yang disimpan antara lain: kemarahan, kesedihan dan kekecewaan. Ada juga yang bertahun-tahun menyimpan trauma pelecehan. Akibatnya emosi negatif menumpuk dan menjadi penyakit.

Kami mengajak klien untuk berani mengingat dan menceritakan ulang pengalaman dan emosi negatifnya. Mereka terbuka, lalu pulih. Kami melatih mereka tidak takut menangis dan menyatakan kemarahan tersembunyi.

Ungkapan "Berbahagialah kamu yang menangis, karena kamu akan dihibur", merupakan kebenaran yang telah memulihkan banyak orang. Lewat kesedihan kita merasakan kebutuhan akan Tuhan, Sang Penghibur sejati.

Menangis juga menjadi jalan agar sesama yang dekat dengan kita mengetahui akan kebutuhan kita.  Supaya kita sadar kita membutuhkan orang lain, dan menjadi rendah hati.

Ada beberapa dukacita yang sehat. Di antaranya, prihatin dengan penderitaan sesama. Terkadang kita perlu menangisi masa lalu. Kehilangan banyak hal di masa kecil perlu diratapi, sebab dulu kita hanya bisa menekannya. Kita perlu juga menangisi dosa-dosa dan kegagalan kita masa lalu. Juga menangis saat kita kehilangan kesempatan dan orang-orang yang kita cintai.

Penulis bersyukur boleh membaca pengalaman mahasiswa kami. Saat mereka memulai mengerjakan tugas life story, umumnya mereka tidak kuat, lalu menangis. Namun setelah menangis mereka merasa lega. Ada kepuasan setelah mengungkapkan emosi yang disimpan belasan tahun lamanya. Ada yang mengingat ulang kekerasan orang tua hingga pelecehan seksual yang mereka pendam.

Mengapa kita perlu menggali-gali masa lalu?
Mengapa tidak melupakan saja?
Dan Allendar dalam The Wounded Heart, menyatakan bahwa menyangkal riwayat masa lalu sama saja dengan berusaha mengoperasi isi kepala Anda sendiri. Ini sama dengan membuat kita lebih bodoh, menunjukkan ketidakmampuan untuk berpikir, menilai, atau memilih dengan logis.

Setiap kita baik membuat "inventarisasi moral", untuk kehidupan pribadi dan juga keluarga besar. Kita tak saja perlu mengakui dan menangisi dosa pribadi tapi juga dosa keluarga bahkan dosa nenek moyang.

Bagaimana cara mengakui dosa atau luka orang lain? Kita bisa menggali dan menyelidiki lewat mewawancarai kerabat dekat yang berusia lebih tua. Mencari tahu apa yang pernah berlangsung di masa lalu.
Ada beberapa pertanyaan yang bisa membantu kita menggalinya:

Ø  Apa yang sudah dilakukan orang tua, kakek-nenek, tante/bibi, paman dan saudara-saudara sekandung yang membuat posisi mereka di dalam keluarga menjadi hancur dan mereka melukai orang lain?
Ø  Siapa yang paling tidak bertanggung jawab dan paling dimanjakan dalam keluarga?
Ø  Krisis kesehatan, finansial, dan masalah hukum apa yang pernah menggoncangkan keluarga?
Ø  Apakah ada orang lain yang menganiaya atau membuat keluarga merasa trauma?
Ø  Bagaimana anak-anak diasuh; apakah mereka di anggap sebagai hak milik yang bisa digunakan, dianiaya dan dibuang?
Ø  Bagaimana hal-hal di atas menghancurkan keadaan keuangan keluarga, menghancurkan pernikahan, melukai anak-anak, membuat tertutupnya lapangan kerja atau dijauhi masyarakat, menimbulkan gelombang rasa takut, kemarahan terpendam, kegagalan atau keputusasaan dalam keluarga?
Masa lalu keluarga mau tidak mau, mempengaruhi hidup kita saat ini. Apakah mau pulih atau tidak, tergantung pada kita masing-masing.

Menangis itu Sehat

Penulis sendiri banyak menangis saat mendapatkan pelayanan konseling. Saya sadar ternyata menyimpan banyak luka dan trauma di masa kecil. Konselor membantu saya cakap untuk menceritakan ulang kisah hidup yang sudah puluhan tahun saya kubur.

Sedikitnya ada lima manfaat dukacita dan kehilangan:
Pertama, dukacita dan kehilangan membuat kita lebih sadar akan peristiwa-peristiwa di sekitar. Salomo menulis, "Lebih baik ke rumah duka daripada ke rumah pesta." Lewat kesedihan kita sadar ada sesama yang membutuhkan penghiburan dan bantuan.

Kedua, pengalaman dukacita membuat kebahagiaan kita justru menjadi sempurna. Salomo menulis: Ada waktu untuk berduka ada waktu untuk bersuka. Untuk segala sesuatu ada waktunya. Bandul hidup berjalan seimbang. Kebahagiaan yang sejati adalah mengalami kesukaan dan penderitaan secara seimbang.

Ketiga, pengalaman dukacita membuat kita lebih manusiawi. Lebih cakap berempati terhadap masalah masalah orang lain. Dengan bekas duka kita bisa menghibur sesama dengan penghiburan yang kita terima dari Tuhan. Kita menangis dengan orang yang menangis, dan bersukacita dengan orang yang bergembira. Empati adalah bahan dasar seseorang untuk dipakai menghibur orang lain.

Keempat, pengalaman dukacita mendidik kita pada jalan kebenaran. Firman Tuhan mengatakan bahwa disiplin atau ajaran Tuhan awalnya memang mendatangkan duka, namun akhirnya membuahkan damai. Dukacita dan kehilangan membantu kita mengingat kekekalan.

Kelima, menangis bisa menjadi sarana katarsis, agar kita lebih kuat dan lega saat tekanan hidup yang berat.
Jadi jika saat ini Anda punya masalah dan membuat luka dan berduka, bicarakanlah dengan seseorang yang anda percayai. Jangan pendam sendiri. Saat hati Anda remuk dan patah, menangislah. Menangis itu sehat. Menangis bisa menjadi sarana Allah membersihkan hati kita. Pemazmur pernah secara puitis menggambarkan bahwa Allah itu menghitung dan siap menampung setiap air mata kita. Artinya dia setiap disamping kita saat berduka.

Jadi, berterimakasihlah pada mereka yang membuat kita menangis, memancing air mata kita keluar, dan membuat hidup kita menjadi lebih tegar dan segar.

Refill

Dalam masyarakat kita wanita tampak lebih banyak menangis dibanding pria. Di rumah beban ibu sangat banyak dan berat. Terkadang untuk meringankan bebannya ibu butuh menangis agar lega. Mama perlu meluapkan emosinya dengan pas. Terkadang air mata istri atau ibu menjadi semacam alarm atau pertanda agar kita lebih peka akan kebutuhannya.
Ada kesan perempuan itu seolah cengeng. Tunggu dulu. Saat menangis ibu tidak hanya menangisi dirinya sendiri. Ia bersedih saat melihat suami atau anaknya susah. Dengan air matanya seorang wanita bisa jadi berusaha tidak ingin menyerang pasangan, tapi hanya ingin sekedar melindungi egonya yang terancam.

Tak jarang di saat ibu sudah tidak mampu lagi berbicara kepada anaknya, diam-diam banyak bicara dalam doa kepada Tuhan tentang anak dan suaminya.

Mulutnya hanya komat kamit sambil memandang kita. Diam-diam dia berdoa, berdoa dan terus berdoa sambil meneteskan air mata.

Ajaib, mata kita siap memproduksi air mata, kapan saja diperlukan. Tuhan sudah membuat mata mampu secara otomatis mengeluarkan air mata. Ya, air mata kita bisa di-refill alias "isi ulang". Air mata adalah anugerah istimewa bagi manusia, agar bisa berduka. Sebab dengan menangis kita merasa lega saat berduka.

Dengan menderitalah kebahagiaan kita menjadi sempurna. Sebab kebahagiaan sejati adalah mengalami kesenangan dan penderitaan secara seimbang.

Dr. Julianto Simanjuntak

BACAAN:
1.Mencinta hingga Terluka (Julianto Simanjuntak dan Roswitha Ndraha, GRAMEDIA)
2.Seni Merayakan Hidup yang Sulit (Julianto Simanjuntak dan Roswitha Ndraha)
3.Healing Your Famili Tree (Beverly H. Tauke)
4.Mengenali Monster Pribadi: Seni Pemulihan Diri dan Pohon Keluarga (Julianto Simanjuntak)

LEMBAGA KONSELING KELUARGA KREATIF ~ LK3
Orang Bijak Peduli Konseling (LK3)

Melayani Bersama SHARE ~ LK3
KLIK:
http://bit.ly/SHARE-LK3