Keintiman dan Kesehatan Mental Keluarga

Published on 28 February 2018

Akhir-akhir ini banyak kasus konflik pasutri dan pemberontakan anak justru karena klien tidak bijak mengatur waktu. “Apa yang dipersatukan Tuhan” justru dipisahkan kesibukan-kesibukan Pelayanan Gereja, disamping agenda kantor yang ketat. Tanpa sadar, Pemimpin gereja ikut menyumbang potensi kerusakan keluarga, karena membuat program pelayanan yang tidak pro pada kesehatan sistem keluarga jemaatnya.

Agenda gereja setiap minggu sangat rapi dan ketat. Bahkan siapa yang lalai diberi sanksi. Misal, tidak boleh terlibat melayani. Sebaliknya coba perhatikan apakah agenda yang sama ada untuk pasangan atau anak ? Keluarga tak jarang mendapat sisa atau ampas waktu. Menyedihkan bukan? Kalau istri minta waktu, jawaban sang suami: "Kalau ada waktu", atau "Lihat nanti". Tapi agenda pelayanan gereja sangat jelas terjadwal ketat. Kalau anak minta waktu jalan-jalan hari Sabtu, jawaban Orangtua: "Bapak ada acara gereja". Hari minggu apalagi. Sibuknya luar biasa. Sementara di hari Senin sd Jumat anak-anak sibuk pagi sampai sore bahkan malam.

Kesibukan telah merampas keintiman Anda dengan pasangan, dan kehilangan waktu bermain dengan anak-anak
Individualis dan Impersonal Perubahan drastis telah melanda institusi pernikahan dan keluarga dewasa ini. Perubahan tersebut membawa konsekuensi yang luar biasa, antara lain mengubah perasaan, harapan, nilai-nilai
dan pola tingkah laku manusia.

Perubahan itu, secara langsung ataupun tidak, melanda keluarga. Salah satu dimensi keluarga yang sangat dipengaruhi adalah hilangnya relasi yang intim antara suami-istri. Setting sosial masyarakat kini melahirkan masyarakat dan keluarga yang makin individualis dan impersonal. Akibatnya manusia makin jauh dari relasi,
bahkan dari orang terdekat sekalipun seperti keluarga. Hal ini kemudian menimbulkan satu kehausan yang sangat besar dan mendalam akan intimasi. Di sisi lain, manusia pada dasarnya adalah mahluk sosial (social being). Artinya, manusia membutuhkan ikatan (bonding) atau hubungan yang intim dengan orang-orang yang terdekat, khususnya keluarga. Ikatan batin ini penting sebab menjadikan seseorang tahan terhadap stres dan
kecemasan. Akibat tuntutan kehidupan dan nilai hidup yang mengutamakan uang membuat banyak ibu harus bekerja di luar rumah. Bekerja tentu bukan masalah, namun akibatnya mereka menjadi kurang mempunyai waktu menciptakan hubungan yang saling membangun dengan pasangan dan anak-anak.

Berkurangnya waktu bersama keluarga, khususnya anak-anak, menambah stress dan konflik tersendiri. Konflik tersebut menurut James Levine[8] adalah konflik antara ‘mengutamakan kehidupan kerja atau keintiman keluarga’. Ternyata dari beberapa penelitian yang dikumpulkan oleh Levine, tidak hanya kaum ibu yang mengalami konflik atau stres tersebut, tetapi juga kaum ayah.

Stres berperanan menciptakan keluarga-keluarga yang disfungsi. Bahan Dasar Menghangatkan Cinta Untuk menghangatkan cinta dan keintiman ada yang perlu kita usahakan dan latih bersama pasangan, antara lain:
.
Pertama adalah waktu yang cukup bersama pasangan.
Kedua, bisa jadi teman bicara yang menyenangkan dengan pasangan.
Ketiga, punya selera humor dan cakap bercanda
Terakhir, senang membantu ketika pasangan membutuhkan pertolongan.

Intinya selalu memikirkan bagamana agar pasangan senang dan puas. Untuk menghangat cinta berarti anda harus peduli, bersedia berbagi dan menyatakan diri pada pasangan tanpa rasa takut atau berpura-pura. Ada kerelaan memelihara pasangan dan siap memproteksi kebutuhan fisiknya pasangan dengan baik. Dalam hal ini termasuk berkorban bagi pasangan, membela pasangan saat dia terancam. Semua ini akan memberikan pasangan Anda rasa aman yang paling mendasar. Keintiman Tinggi, Stres Rendah

Beberapa hasil penelitian menunjukkan keintiman berkaitan erat dengan stress. Relasi yang intim bisa menjadi semacam benteng bagi efek negatif dari stress. Survei membuktikan, mereka yang intim dengan pasangan, lebih sedikit mengalami syndrom yang berkaitan dengan stress dan paling cepat mengatasi berbagai penyakit. Mereka juga paling sedikit kemungkinan kumat dengan penyakitnya dibandingkan mereka yang tidak memiliki relasi
yang intim. Untuk itu, orang yang menikah perlu belajar merawat dan mengembangkan keintiman, sebab ini berkaitan dengan kesehatan Anda. Secara praktis, berikanlah waktu yang cukup bersama pasangan. Usahakan Anda menjadi teman bicara yang menyenangkan, sedikit ada humor dan canda. Sukalah membantu ketika
pasangan membutuhkan pertolongan. Anda tidak hanya fokus pada bisnis dan karir pribadi, sebaliknya perhatikan pada pasangan Anda. Berusahalah memikirkan bagamana agar pasangan Anda senang dan puas. Merawat cinta berarti peduli, bersedia berbagi dan menyatakan diri pada pasangan tanpa rasa takut atau berpura-pura.

Ada kerelaan memelihara pasangan dan memproteksi kebutuhan fisiknya dengan baik. Dalam hal ini termasuk berkorban bagi pasangan, membela pasangan saat dia terancam. Semua ini akan memberikan pasangan Anda rasa aman yang paling mendasar. Bentuk-bentuk keintiman yang lain adalah:

Pertama, keintiman emosi.
Ini merupakan pengalaman kedekatan secara perasaan, kemampuan membagikan perasaan secara terbuka, dan mendapat perhatian penuh dari pasangan. Wujudnya adalah kerinduan untuk bersama, ada kesukaan ngobrol dan jalan berdua. Intinya, sediakan waktu bermesraan secara emosi.

Kedua, keintiman sosial.
Pengalaman memiliki teman dan kegiatan sosial bersama-sama. Wujudnya, tidak mudah cemburu. Sebaliknya mau akrab bergaul dengan sahabat pasangan Anda. Menyediakan waktu ngobrol dan bertemu dengan sahabat masingmasing.

Ketiga, keintiman seksual (bagi suami-istri).
Ini adalah pengalaman menyatakan afeksi, sentuhan, kedekatan secara fisik dan aktivitas seksual. Wujudnya adalah punya rasa tertarik pada tubuh pasangan, mengalami orgasme dan bebas dalam mengkomunikasikan masalah seksual. Tipsnya, sediakan waktu berkala menikmati hubungan seksual dengan pasangan Anda sesuai kebutuhan dan kesepakatan, juga kreatif melakukannya.

Kempat, keintiman rekreasional.
Pengalaman membagi kesukaan lewat hobi, olahraga, dan rekreasi bersama. Kemampuan menikmati waktu senggang bersama. Rencanakan berlibur setidaknya dua kali setahun, yang menyenangkan bagi kedua belah
pihak termasuk anak-anak.

Kelima, keintiman spiritual.
Kemampuan menikmati persekutuan bersama secara rohani, bertumbuh secara iman serta saling mendoakan. Selain menikmati iman yang utuh, perlu saling menguatkan saat pasangan dalam kondisi tertekan dan banyak
pergumulan. Anda menjadi teman sharing menyenangkan dan menguatkan.

Jika Anda bisa membangun dan merawat keintiman di atas, maka Anda membawa kenikmatan, kepuasan pada pasangan dan diri Anda sendiri. Anda menikmati kegembiraan, kedamaian, ketentraman, dan minim stres.
Sebaliknya, jika Anda tidak merawat cinta dan keintiman dapat membawa hasil yang negatif. Antara lain, mudah sakit, banyak keluhan fisik dan psikis. Akhirnya, perkawinan tanpa keintiman menimbulkan ketegangan dan
kesulitan yang mempengaruhi kinerja dan karir Anda.

Julianto Simanjuntak
LEMBAGA KONSELING KELUARGA
KREATIF ~ LK3

BACAAN
1. Len Sperry & J. Carlson. Marital Therapy. Love Publishing Company, Colorado, 1991
2. Seni Merawat Keluarga, Julianto Simanjuntak dan Roswitha Ndraha (Pelikan Indonesia)
3. Mengubah Pasangan Tanpa Perkataan (Julianto Simanjuntak dan Roswitha Ndraha , VISI Bandung)
4. Alasan-alasan mempertahankan Perkawinan (Benjamin Utomo dan Julianto Simanjuntak )