Alasanku Mencintaimu

Published on 08 November 2018

Wita, 27 tahun sudah kita lalui bersama. Banyak kenangan indah di dalamnya. Meski diawali air mata, oleh anugrah-Nya kita menikmati mata air keluarga, bersama kedua putera titipan-Nya.
Konflik tajam di lima tahun pertama pernikahan, sungguh sangat tidak nyaman. Semua itu membuatku nyaris putus asa bahkan menyesali perkawinan kita. Sampai aku sadar, akulah yang harus berubah, bukan terus menerus menuntut atau menyalahkanmu.
Untung aku akhirnya sekolah dan belajar konseling. Meski untuk itu kita harus menghemat karena hanya hidup dari beasiswa. Aku mendapat kesadaran dan ilmu baru, skill menjadi suami dan ayah. Ya, aku belajar "Ilmu Keayahan dan Ilmu Kesuamian". Aku tak pernah menyesal, meski sempat kehilangan gaji dan jabatan.
Sayangku, kau adalah kasih karunia, pemberian istimewa. Aku bangga menjadi suamimu. Teringat saat aku pertama jatuh cinta tahun 1988. Alasanku mencintaimu adalah pribadimu yang penuh perhatian, kesederhanaan dan tulisanmu. itulah yang menggodaku, goresan penamu.

Read more...
 

Apa yang Ada di Tanganmu?

Published on 03 August 2018

"Dengan menulis Kita 'ada' dimana-mana tanpa kemana-mana". Kata Prof. T. Ndraha

Firman Tuhan memberi mandat agar kita memberitakan firman hingga ke ujung bumi (Kisah Rasul 1:8).

Misi tradisional melakukan upaya di atas dengan cara mengirimkan orang, dengan biaya dan pengorbanan yang sangat mahal. Kita bersyukur untuk itu. Tapi kini terbuka satu ladang baru untuk memberitakan kisah hidup, pengalaman, dan Firman dengan cepat, mudah dan hemat. Kita bisa 'ada' dimana-mana tanpa perlu kemana-mana.

Pergi tanpa perlu hadir secara fisik, yakni menulis lewat sosial media.

Read more...
 

Kampanye Pentingnya Konseling, Keluarga dan Kesehatan Mental

Published on 04 May 2018

Saat LK3 dimulai 16 tahun lalu, profesi Konselor dan Psikolog masih belum populer. Orang masih malu konseling, rasanya seperti aib. Karena Tuhan memberi visi kepada kami “rindu melihat berdirinya satu pusat konseling di setiap kota di Indonesia serta tersedianya pusat kesehatan mental, psikolog, psikiater dan konselor secara merata di tanah air,” maka kampanye konseling menjadi program utama LK3.

Ketika masih kuliah S1 Konseling di UKSW tahun 1989, saya sadar, Indonesia darurat kesehatan mental. Angka gangguan jiwa yang sangat tinggi, 14 persen dari populasi. Sementara pusat konseling, mental hospital, tenaga konselor, psikolog dan psikiater minim. Maka, kami terpanggil melakukan sesuatu untuk mengenalkan pentingnya konseling.

Read more...
 

Page 1 of 12