AMBISI MELUKAI

Published on 13 February 2018

Pada individu tertentu bisa tumbuh satu ambisi suka melukai hati orang lain. Ia mengalami kepuasan tertentu jika bisa melukai seseorang. Apakah dengan cara membuat orang itu malu, atau apa saja yang bisa merusak nama baik orang tersebut. Ia puas ketika berhasil membuat orang tersebut susah bahkan menderita.

Umumnya orang yang ia lukai adalah mereka yang pernah ia kagumi atau sayangi. Ia melakukannya karena pernah ada HARAPAN tertentu yang tidak terpenuhi dan menimbulkan kekecewaan yang mendalam.

Hubungan itu bisa antara suami dan istri, orangtua dengan anak. Guru dengan murid atau sebaliknya. Juga bisa antara bawahan dengan atasan atau sahabat baik.

Luka kekecewaan umumnya tumbuh secara  perlahan, kurang disadari. Tapi akar pahit itu semakin lama makin menancap dalam. Sampai sulit melepaskannya, dan membunuh akal sehat jauh dari rasionalitas. Timbul ambisi melukai.

Fitnah atau gosip adalah satu cara yang umum terjadi. Kadang dengan cara menulis surat atau "WA kaleng". Membicarakan kejelekan orang yang ia benci, secara subjektif. Mengarang cerita seolah benar, dan jika perlu melibatkan nama orang besar atau hebat untuk membenarkan pendapatnya. Ia belum merasa puas sampai nama orang yang ia tidak sukai itu menjadi rusak atau cemar.

Firman Tuhan berkata

Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang PAHIT yang menimbulkan kerusuhan dan yang MENCEMARKAN banyak orang.

Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.  Ibrani 12:14-15

Teringat tulisan Lewis B Smedes,

“Memaafkan itu seperti membebaskan seorang tawanan dan sadar bahwa orang yang tertawan itu adalah diri kita sendiri.”

Julianto Simanjuntak
Catatan Harian 12 Feb 2018